Sampaikanlah walau satu ayat Al-Qur'an Online

Selasa, 13 Januari 2009

PAN Jegal Laju PMB


Partai Amanat Nasional (PAN) tak rela dukungan politik warga Muhammadiyah dialihkan kepada Partai Matahari Bangsa (PMB) meski selama lima tahun terakhir PAN tidak memperdulikan warga Muhammadiyah yang notabebe merupakan organisasi massa Islam terbesar kedua di Indonesia. Berhasilkah?


Komunitas Muhammadiyah bakal jadi rebutan partai-partai politik pada pesta demokrasi tahun ini. Perebutan yang nyata-nyata terlihat adalah antara Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Matahari Bangsa (PMB). Kecuali itu, parpol-parpol nasionalis juga memiliki konstituen pada personal warga Muhammadiyah.

Pada Pemilu 1999 dan 2004, PAN secara tak resmi seakan jadi representasi suara politik warga Muhammadiyah. Tapi, ‘pertunangan’ itu tergerus karena ulah PAN sendiri. Akibatnya, sebagian warga Muhammadiyah, secara personal, mendirikan PMB.

DPP PAN tak ingin melepas begitu saja massa pemilih dari Muhammadiyah, yang konon memiliki anggota dan simpatisan mencapai 40 juta orang di negeri ini.

Ketua Dewan Penasihat DPP PAN Amien Rais terpaksa didesak oleh para caleg PAN agar lebih intensif turun ke bawah menggarap konstituen dari organisasi massa Islam terbesar kedua di Indonesia tersebut.

Mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah itu dianggap masih memiliki magnet, khususnya bagi warga Muhammadiyah. “Memang ada dorongan yang sifatnya penegasan dari para kader agar figur Pak Amien bisa mendinamisasi lagi basis yang selama ini sudah terbina, yaitu Muhammadiyah,” kata Ketua DPP PAN, Hakam Naja .

Pada era Amien Rais, PAN dikenal sangat dekat dengan Muhammadiyah. Hampir semua petinggi partai tersebut adalah anggota Muhammadiyah. Setelah dipimpin Soetrisno Bachir, muncul kesan PAN lebih terbuka. PAN seperti sangat antusias menarik artis dan kelompok di luar Muhammadiyah.

Menurut Hakam, basis massa Muhammadiyah tetap menjadi garapan utama PAN. Sebab partai yang didirikan pada Agustus 1998 tersebut memiliki akar historis yang kuat dengan Muhamadiyah. “Para pendiri dan tokoh-tokoh PAN hingga sekarang sebagian besar adalah para aktivis Muhammadiyah,” terangnya.

Apakah itu gambaran PAN mulai takut tidak bisa memenuhi target perolehan suara? Hakam membantahnya.

Yang jelas, sejauh ini PMB terus bergerak ke bawah. PMB telah melakukan kontrak politik dengan para calon legislatifnya untuk tidak terlibat dalam praktik korupsi, menerima suap, dan bermain proyek APBN dan APBD.

“Kita ingin caleg kami tetap memikirkan rakyat. Dengan adanya kontrak politik ini, kami berharap caleg PMB menjadi independen dan dapat menjadi mata dan telinga rakyat kecil,” kata Sekjen PMB, Ahmad Rofik dalam sebuah diskusi.

PMB juga bergerilya untuk merebut suara jamaah Muhammadiyah, termasuk dari kalangan Aisyah. Ditilik dari persentase caleg perempuan, PMB berhasil menempatkan caleg perempuan sebanyak 134 orang (41,2%), sementara caleg laki-laki sebanyak 191 (58,8%).

“Tentu ini merupakan capaian yang menurut kami luar biasa untuk ukuran partai baru seperti PMB, yang kebanyakan merasa kesulitan untuk memenuhi kuota caleg perempuan (30%)," kata Ketua Tim Penjaringan, Pencalonan dan Pembekalan Caleg PP PMB, Ma'mun Murod Al-Barbasy.

Ma'mun yang juga Ketua PP Pemuda Muhammadiyah ini menambahkan PMB tidak saja berusaha melampaui kuota 30% caleg perempuan, tapi juga serius melakukan affirmative actions terhadap posisi politik perempuan.

Alhasil, PAN dan PMB bakal berebut suara dari Muhammadiyah. Itu pun masih harus bersaing dengan parpol lain seperti Golkar, PPP, PBR, PKS, PD dan PDI Perjuangan. Jagad politik Islam modernis memang riuh rendah menjelang pemilu 2009 ini. [I4]

(sumber http://pemilu.inilah.com/berita/2009/01/02/72756/pan-jegal-langkah-pmb/)

Tidak ada komentar: