Sampaikanlah walau satu ayat Al-Qur'an Online

Sabtu, 19 Juli 2008

Dan, Amien pun Gerah?


"Hidup adalah Perbuatan". Begitu mendengar perkataan ini, ingatan sebagian pemirsa televisi langsung melayang pada sosok Soetrisno Bachir. Maklum, sudah dua bulan lebih, pemirsa televisi dijejali berbagai versi iklan sang ketum PAN ini. Hatta, ongkosnya mencapai Rp 20 milyar. Angka segede ini meliputi desain konsep, desain kreatif dan juga ongkos tayang di televisi.



Tak hanya televisi. SB,begitu Soetrisno kerap disapa, juga merambah media lain. Iklannya secara langsung atau yang sifatnya placement news juga semakin rajin nongol di media cetak. Di harian Kompas, ia tak sungkan memasang iklan full color 1 halaman penuh. Menurut informasi, iklan seperti itu tarifnya bisa mencapai Rp 300 juta. Katakanlah ada diskon, pasti tak bakal kurang dari Rp 200 - 250 juta.

Saking bersemangatnya, SB juga menyewa billboard. Tapi, kali ini dia terantuk. Soalnya, dia memasang billboard di daerah terlarang di ibukota. Tak ayal, papan reklame itu pun dicopot.

Meski mengaitkan dengan tema 100 tahun Kebangkitan Nasional, para politisi dan bahkan orang awam sekalipun langsung menghubungkannya dengan Pilpres 2009. "Itu tak mungkin iklan partai. Yang nongol hanya SB dan istri. Kalau ini buat awareness partai, mestinya ada banyak asosiasi ke arah itu. Ini jelas-jelas untuk membangun awareness pribadi," kata seorang konsultan komunikasi politik.

Dan dugaan itu bagai abasah karena salah satu elit PAN pernah bilang, peluang capres lain di partai ini makin tertutup. Itu diomongkannya tak lama berselang setelah iklan SB membanjiri media massa. Padahal, sebelum ini, SB dan PAN sudah melirik dan mengelus-elus Sultan HB X dan juga Sutiyoso.

Akankah SB akan melenggang?

Nah, d sini soalnya. Soalnya ada tanda-tanda Amien Rais akan kembali "turun gunung". Itu dia mulai dengan meluncurkan buku bertajuk "Selamatkan Bangsa". Sesuai acara, Amien tak lantas kembali ke hotel atau bertemu para politisi. Dia memilih bertandang ke tempat-tempat publik.

Pada malam hari (13Ž), misalnya, berpolitik sempat berjumpa dengan Amien yang tengah bersantap malam di sebuah warung kaki lima sea food di bilangan Benhil. Tokoh reformasi ini tak sendirian. Ada yang mengiringinya. Bahkan, sebagian di antaranya memakai atribut PAN.

Manuver Amien itu tak ayal mengundang spekulasi. Soalnya, beberapa waktu silam dia pernah bilang lebih mendorong orang muda tampil ke depan. Di lain waktu, Amien bilang kapok maju lagi. Kata guru besar politik UGM ini, dia hanya mau maju kalau dibekali gundukan duit yang banyak untuk berkampanye.

Tapi, di lain waktu, Amien juga memberi isyarat lain. Dia pernah bilang, kalau tak ada tokoh mudah berani maju, ya, jangan salahkan tokoh tua kembali ke panggung. Tentu saja, termasuk dirinya sendiri.

Jika Amien serius mau maju lagi, bakal ada tarik-menarik yang kuat di tubuh PAN. Yang satu ketum, yang lain adalah figur sentral, meski tak punya kuasa penentu seperti Gus Dur dengan PKB-nya. Ini terbukti dalam sejumlah pilkada. Calon-calon yang didukung dirinya, jarang dilirik oleh pengurus partai.

Toh begitu, tak ada yang meragukan jika Amien benar-benar serius, SB bakal menghadapi batu karang yang kokoh. Masih terlalu banyak petinggi dan warga PAN yang mencintai Amien ketimbang sebaliknya. Terlebih, faksionalitas di tubuh PAN semakin menguat, terutama antara kubu Hatta dan SB. Faksionalitas ini bahkan menjalar ke tingkat daerah. Dalam hal ini, hanya Amienlah yang bisa merekatkan mereka.

Tiga Versi
Pertanyaan yang kemudian mencuat, mengapa Amien mengibarkan bendera tak lama berselang setelah SB bermanuver dengan iklan-iklan politiknya? Sejauh ini ada tiga versi yang berkembang.

Versi pertama menyebutkan, manuver Amien merupakan antisipasi untuk menghadang laju Partai Matahari Bangsa. Yang dikhawatirkan Amien, PMB telah berhasil menggaet Syafii Maarif, mantan ketua Muhammadiyah. Apalagi ada kabar PMB juga sudah berhasil mencuri hati Dien Syamsuddin, ketua PP Muhammadiyah saat ini.

Ini jelas ancaman bagi PAN. Suka tak suka, PAN memang masih mengandalkan basis suaranya di kantong-kantong Muhammadiyah. Jika dua tokoh ormas ini secara gamblang mendukung PMB, PAN jelas dalam bahaya. "Terutama jika buya bersuara, bakal banyak eks politisi PAN yang merapat. Ini bakal mendorong warga Muhammadiyah berpaling," kata seorang pengamat politik.

Jadi, pemunculan Amien ini terutama sekali dikaitkan kebutuhan kontestasi internal memperebutkan suara Muhammadiyah. "Itu kan menjadi tugas pak Amien. Dia kan nggak mau melihat partai yang didirikannya hancur begitu saja,"timbalnya lagi.

Dua versi lain justru bernada negatif. Yakni, versi kedua menyebutkan, SB tidak serius-serius amat menjajakan diri."Itu kan hanya trik dagang saja. Ini buat mendorong para capres yang mau nyalon ke PAN lebih serius. Tahu kan maksudnya?" kata seorang pengamat politik. Lantas diimbuhinya,"Dengan cara ini, SB kan bisa meningkatkan harga tiket, he..he..."

Versi ketiga lebih 'seram' lagi. Menurut versi terakhir ini, pemunculan Amien ini didorong berbagai pihak yang merasa gerah dengan iklan-iklan SB. "SB itu ndak tau diri. Siapa sih yang kenal dia? Kok berani-beraninya nyapres. Kalau dia pikir kemenangan Hade itu karena kerja keras PAN, ya jelas keliru. Hade bisa menang karena mesin politik PKS yang memang hebat," kata sebuah sumber menirukan omongan di kalangan kader PAN sendiri.

Tapi, memang, tak tertutup kemungkinan Amien masih mungkin bakal maju lagi. Selain sebagai icon reformasi, Amien Rais dalam dua tahun terahir ini sudah mengubah positioningnya menjadi tokoh "nasionalis" dengan isu-isu seputar nasiosnalisasi perusahaan tambang asing. Dalam konteks pemilu,isu ini dinilai cukup untuk mengaduk-aduk emosi rakyat.

"Tapi, untuk menang, ya masih berat,"kata seorang konsultan kampanye. "Ironinya, semakin Amien mengarah ke garis radikal, semakin besar peluang tokoh-tokoh yang lebih moderat untuk menang."

Apakah ini berarti SBY yang diuntungkan sebagaimana pernah diulas almarhum Kuntowijoyo pada tahun 2004 lalu? Sepertinya belum tentu. SBY kini semakin terparkir sebagai tokoh yang konservatif.

"Lebih mungkin Sultan yang memperoleh keuntungan. Figurnya kan lebih kalem dan memilih jalan tengah. Tidak grasa-grusu ala Kalla atau Sutiyoso. Tidak juga lamban seperti SBY. Dan, tidak pula seperti Wiranto."katanya si konsultan ini dengan pede-nya. (berpolitik.com)

Tidak ada komentar: