Sampaikanlah walau satu ayat Al-Qur'an Online

Tampilkan postingan dengan label zionisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label zionisme. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 April 2009

Israel Dalang Serangan 11 September


Media berita Amerika membeberkan keterlibatan Israel sebagai dalang serangan tersebut.

American Free Press, sebagaimana dikutip oleh Press TV, menyatakan bahwa Ziad Al Jarrah, salah satu tersangka yang dicurigai dalam aksi terorisme tersebut, diketahui merupakan salah satu agen Israel, Mossad.

Penemuan lainnya oleh New York Times, juga membeberkan bahwa saudara Ziad, Ali Al Jarrah, yang memiliki kewarganegaraan Lebanon, juga dicurigai bergabung dalam badan mata-mata Israel selama 20 tahun terakhir.

"Penemuan lainnya mengenai tragedi 11 September tersebut, juga mendapati bahwa sepupu Jarrah terlibat langsung sebagai satu dari 19 pembajak kapal yang menabrakkannya ke menara kembar WTC dan Pentagon," tambah New York Times.


Penemuan ini memicu spekulasi bahwa, pihak agen Israel memang sengaja mendapatkan anggota dari kelompok muslim Arab, untuk menutupi rencana jahatnya tersebut.

Sebelumnya, Perdana Menteri Italia Francesco Cossiga juga pernah menyampaikan pendapatnya bahwa tindak terorisme 11 September tersebut di dalangi oleh CIA dan Mossad.

"Badan intelijen Amerika dan Eropa sebenarnya telah mengetahui bahwa otak di balik tragedi 9/11 tersebut adalah CIA dan Mossad, dan keduanya lalu mempengaruhi negara-negara lain dengan menuding bangsa Arab sebagai pelakunya," kata Cossiga, sebagaimana dikutip oleh media Corriere della Serra.

Cossige menegaskan pendapatnya dengan argumen dari laporan bahwa dua jam sebelum tragedi 9/11 tersebut terjadi, para karyawan perusahaan telekomunikasi Israel, Odigo, yang berjarak blok dari WTC, diperintahkan untuk segera meninggalkan gedung perusahaan tersebut.
Temuan ini bukan kali pertama. Sebab, sebulan peristiwa ini terjadi sudah pernah ditemukan bukti adanya sekitar 4000 orang-orang Yahudi yang telah menerima pengumuman akan adanya peledakan di gedung WTC.[muslimdaily.net/syf/hidayatullah]

sumber:
http://www.muslimdaily.net/2009/03/11/Terkuaknya+Israel+Sebagai+Dalang+Serangan+11+September.html
Selengkapnya...

Selasa, 13 Januari 2009

Boycot TV One Indonesia!!!


Dalam 'Apa Khabar Indonesia Pagi' (Senin, 5/01), terdapat upaya penggiringan opini secara halus oleh TV One, yaitu agar publik di Indonesia, termasuk umat muslim yang mengutuk serangan brutal dan keji Israel menjadi "memakluminya". Kenapa hal itu dilakukan TV One?.


Dalam Apa Kabar Indonesia Pagi Senin 5 Januari 2009, dengan halus Indriarto Priyadi dan terutama Grace Natalie mencoba menggiring opini pemirsa bahwa Israel "terpaksa" menyerang. Mereka berbincang bahwa Israel tak akan berhenti menyerang jika serangan roket Hamas tak dihentikan. Dalam sesi pertama dengan pengamat Bantarto Bandoro, pembicaraan berkutat pada Hamas yang memang mengganggu dan "memancing" serangan Israel dengan serangan roket ke negeri zionis itu.

Pengamat internasional CSIS itu juga menyebut bahwa perang akan berlangsung lama karena -tidak seperti agresi Israel ke Lebanon yang dipukul Hizbullah dan "ditengahi" pasukan PBB- Hamas menolak kehadiran pasukan perdamaian. Opini pemirsa pun tergiring kepada kesimpulan: Israel menyerang karena kesalahan Hamas dan serangan akan terus berlanjut karena Hamas dengan degil menolak campur tangan internasional PBB. Kerja tim yang baik antara Indriarto, Grace dan sang pengamat CSIS.

Menjelang sesi berikutnya, wawancara dengan KH. Ahmad Satori dari Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Indriarto membuka dengan menyebutkan seruan boikot produk "yang katanya" dari Amerika oleh beberapa kelompok (Muslim tentu saja). Ungkapan agak sinis ini kemudian ditimpali Grace, "padahal mereka suka menggunakan produk itu." Sebuah judgement bahwa kelompok Muslim yang menyerukan boikot produk Amerika sebenarnya justru pecinta produk itu.

Sekitar dua hari sebelumnya, dalam sebuah ilustrasi tentang sejarah konflik di Palestina, narator TV One menyebutkan bahwa tanah Palestina dikuasai Israel setelah gerilyawan Israel berhasil memaksa Inggris-yang diberi mandat oleh PBB- hengkang dari sana. Ini adalah kedustaan yang bodoh dan buta sejarah. Kenyataannya Inggris sejak 1917 memang berencana memberikan tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel oleh kelompok zionis Yahudi. Deklarasi Balfour dengan jelas membuktikan kedustaan ini.

Ada juga penayangan rekaman video dari pihak Israel yang mengebom sebuah masjid. Serangan keji yang menghancurkan rumah ibadah dan menewaskan jamaahnya ini dilakukan dengan alasan masjid menjadi gudang penyimpanan roket-roket Al-Qassam. Ada cuplikan menarik dalam video itu, setelah ledakan bom pertama ada ledakan kedua ( secondary explosion ) yang diberi tanda dan catatan oleh editor video Israel. Hal itulah yang diklaim sebagai "bukti" adanya roket di dalam masjid. Yang menggelitik, cuplikan itu selalu diulang-ulang oleh TV One dalam tayangan berita tentang serangan Israel.

Beberapa poin di atas menunjukkan adanya upaya penggiringan opini oleh TV One. Yaitu agar publik di Indonesia, termasuk umat Muslim, yang mengutuk serangan brutal dan keji Israel menjadi "memaklumi." Pertanyaannya, kenapa hal itu dilakukan TV One?

Jauh sebelumnya, Grace Natalie juga melakukan penggiringan opini dalam berita kasus terorisme Palembang. Grace, yang "meninjau" lokasi pesantren yang dituduh menjadi sarang dan tempat latihan tersangka teroris Palembang, melengkapi laporannya dengan ilustrasi bahwa pesantren itu "aneh" karena hanya memiliki sepuluh santri.

Kalau saja Grace seorang Muslim, atau rajin mengamati pesantren-pesantren kecil di pedesaan, niscaya ia akan menemukan pesantren (rintisan tentu saja) yang hanya memiliki lima, empat, tiga atau bahkan satu santri saja. Keheranan seorang Grace yang bukan Muslim dan tidak memahami dunia pesantren memang wajar. Namun komentar bodohnya bahwa hal itu “aneh” memberi bobot bagi penggiringan opini bahwa pesantren adalah sarang teroris.

Tapi terlepas dari hal tadi, Grace Natalie dan TV One memang hebat. Liputan mereka tentang kasus terorisme selalu berhasil mencapai level eksklusif. Saat para wartawan di Yogyakarta tak bisa mendekati rumah tempat Mbah alias Zarkasih ditangkap, Grace malah terlihat ada di mobil Densus 88 yang melakukan penangkapan. Tak heran jika dalam pemberitaan penangkapan tersangka teroris di Palembang pun Grace bisa masuk rumah salah satu tersangka dan memamerkan "temuannya," sebilah pedang samurai yang biasa dijajakan di kakilima. Tak begitu dahsyat, tapi lumayan, bisa menambah bobot penggiringan opini bahwa itu memang rumah teroris.

Bos Grace, Karni Ilyas, malah lebih hebat lagi. Pada saat penangkapan Amrozi, ia melaporkan langsung dari TKP, padahal posisinya waktu itu Pemred SCTV. Demikian juga saat penyerbuan di Batu yang berakhir dengan kematian Dr. Azahari, Karni yang waktu itu Pemred Anteve melaporkan langsung dari TKP. Di mana ada kasus terorisme besar yang terungkap, di situ pasti ada Karni Ilyas atau anak buahnya -salah satunya Grace Natalie. Hubungan Karni yang dekat dengan Komjen. Gories Mere membuatnya selalu mendapatkan liputan eksklusif tentang operasi Densus 88.

Jangan lupa juga bagaimana reporter TV One (waktu itu masih bernama Lativi) Alfito Deannova berhasil mengajak Ali Imron -terpidana seumur hidup kasus Bom Bali yang seharusnya meringkuk dalam penjara- jalan-jalan menapaktilasi lokasi persiapan dan pelaksanaan Bom Bali. Ali memang fenomenal, saat kawan-kawannya meringkuk dalam sel, ia malah bisa ngopi bareng Gories Mere di Kafe Starbucks yang di yakini salah sebuah usaha milik jaringan zionis internasional.

Ketika hal itu memicu kegemparan, Gories beralasan bahwa Ali dibon untuk mengungkap jaringan teroris. Ini masih masuk akal, Gories memang berwenang melakukan berbagai upaya dalam penyidikan. Namun bagaimana bisa TV One "mengebon" Ali yang napi untuk acara eksklusifnya? Lagi-lagi stasiun televisi yang sahamnya dimiliki oleh taipan media keturunan Yahudi Rupert Murdoch -melalui Star TV Group- ini memang hebat.

Okelah, bisa jadi Karni Ilyas berniat baik, memfasilitasi Polri dengan stasiun televisi tempatnya bekerja dalam kampanye pembentukan opini memerangi terorisme di Indonesia. Biarlah kelompok Muslim dan pesantren yang sempat menjadi sasaran kampanye itu marah dan sedih, toh mereka masih bisa membantah, ini negeri demokrasi tempat pendapat bebas diumbar kan?

Tapi sangat jahat kalau Hamas, Muslim Palestina dan bangsa terjajah itu kemudian dihalangi dari dukungan Muslim dan bangsa Indonesia. Yaitu dengan membentuk opini bahwa Israel tidak salah kalau menyerang mereka. Salah mereka sendiri melakukan perlawanan terus-menerus pada penjajah zionis yang jauh lebih kuat. Ini adalah kampanye terselubung mendukung kekejian zionisme.

So, kapan lagi kita sebagai umat muslim di Indonesia memberikan pernyataan dan sikap terhadap apa yang telah dilakukan oleh TV One Indonesia, yang telah dengan sengaja menggiring publik muslim di seluruh tanah air agar "memaklumi" agresi Israel di jalur Gaza dewasa ini. Boycot TV One Indonesia!!!

(sumber http://www.muslimdaily.net/2009/01/05/Antara+Gaza%2C+Grace%2C+TV+One+dan+Karni+Ilyas+.html)
Selengkapnya...

Minggu, 08 Juni 2008

Nama Pendukung Petisi AKKBB

MUI Sesalkan Aksi "Serbuan" Tapi Kecewa "Provokasi" AKKBB
Senin, 02 Juni 2008

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyesalkan adanya aksi penyerangan, namun juga kecewa dengan aksi-aksi "provokasi" yang selama ini dilakukan AKKBB

Hidayatullah.com--Aksi penyerangan anggota FPI terhadap massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) disesalkan MUI. Masyarakat diimbau tidak melakukan tindakan provokatif dan kekerasan terkait aliran Ahmadiyah.

"Kita menyayangkan peristiwa itu. Saya tidak setuju dengan tindakan FPI," tegas Ketua MUI Amidhan di Jakarta, Ahad (1/6), sebagaimana dikutip Inilah.com.

Amidhan mengatakan MUI menyesalkan tindakan kekerasan yang terjadi tersebut. Namun, ia menilai tindakan massa Aliansi juga provokatif.

Ia mengatakan Aliansi mencantumkan dukungan dari pihak yang beragama lain selain Islam. Padahal Ahmadiyah adalah masalah yang dialami di internal umat Islam.

Pendukung Petisi

Sebelum mengadakan aksi damai di Silang Monas. AKKBB juga sudah rajin menggalang opini di berbagai media massa. Termasuk diantaranya melakukan kampanye iklan Petisi yang dimuat di beberapa Koran nasional.

Iklan Peytisi bertajuk, "Mari Pertahankan Indonesia Kita!" yang dimuat di beberapa media massa, isi materi iklannya juga menuduh adanya sekelompok orang, seolah-olah hendak menghapuskan hak asasi warga negara untuk bebas beragama dan dianggap mengancam ke-bhineka-an.

Dalam iklan Petisi yang isinya mendukung Ahmadiyah itu, muncullah nama-nama. Diantaranya; A. RAHMAN TOLLENG , A. SYAFII MAARIF (Maarif Institute), Abdul Moqsith Ghazali (JIL), Abdul Munir Mulkhan (UIN), Ade Armando (Majalah Madinah), Adnan Buyung Nasution, Agus Hamonangan (Kompas), para aktivis JIL lain seperti; Ahmad Baso, Ahmad Fuad Fanani . Ahmad Nurcholish . Ahmad Sahal . Ahmad Suaedi . Ahmad Taufik . Ahmad Tohari dan Akmal Nasery Basral.

Juga nama-nama lain seperti; Albertus Patty, Amien Rais, Anand Krishna, Andreas Harsono, Asmara Nababan (PDI), Ayu Utami, Azyumardi Azra dan Bachtiar Effendy.

Juga nama Christianto Wibisono, Daniel Dakhidae (Kompas), Fikri Jufri (Tempo), Gadis Arivia, Goenawan Mohamad, Gusti Ratu Hemas, Hamid Basyaib (JIL), Ihsan Ali-Fauzi, Indra J. Piliang, Jajang C. Noer, Julia Suryakusuma (aktifis feminis), Kautsar Azhari Noer, KH. Husein Muhammad (JIL), Imam Ghazali Said (dosen IAIN Surabaya), Lies Marcoes-Natsir, Luthfi Assyaukanie (JIL), M. Dawam Rahardjo, M. Guntur Romli (JIL), M. Syafi'I Anwar (ICIP), Marsilam Simanjuntak, Moeslim Abdurrahman dan Siti Musdah Mulia (ICRP).

Nong Darol Mahmada (JIL), Novriantoni (JIL), Rieke Dyah Pitaloka, Rizal Mallarangeng, Syamsurizal Panggabean, Toriq Hadad, Uli Parulian Sihombing, Ulil Abshar-Abdalla (JIL), Usman Hamid (Kontras), Wardah Hafiz (pegiat feminisme), Yenni Rosa Damayanti, Yenny Zannuba Wahid, Yudi Latif, Zainun Kamal (UIN), juga Zuhairi Misrawi (JIL).
Nama-nama ini, sebagaimana pemantauan hidayatullah.com di lapangan, dianggap memancing emosi akibat dukungannya dalam iklan Petisi membela Ahmadiyah di beberapa koran. [inl/cha, sur/berbagai sumber/www.hidayatullah.com] Selengkapnya...